Hobi Yang Dibayar

Yakali hobi gak dibayar, emangnya kamu hobi apaan?! Dasar hobi murahan!

Ship in the middle of an ocean.
Foto kapal dari jauh, karena kalo dari deket namanya fotokopi.

Tenang semuanya, jangan terpancing. Karena saya lagi menulis, bukan memancing, cakep.

Karena sejatinya, sebagian besar manusia di dunia ini secara tidak langsung pasti memiliki suatu kesukaan yang mana ia akan lakukan hal itu tanpa adanya embel-embel bahwa nanti ia akan mendapatkan upah, dan hal itu akan dilakukannya berulang kali dengan senang hati. Ya, gampangnya hobi deh. Mulai dari manusia pra-sejarah — sampai manusia modern. Dari bocil epep sampai nenek-nenek. Semuanya pasti memiliki sebuah hobi. Mau mahal ataupun tidak.

Dulu ketika saya masih jadi tukang cuci mobil, hobi saya adalah DeSaIn gRAfIs bUkAn dEsAiNn gRaTisZsS. Karena hobinya sudah menghasilkan uang, jadinya sudah enggak asik lagi. Ia udah jadi pekerjaan, bukan hobi lagi.

Karena kalau udah jadi perkejaan, ada yang namanya tuntutan dan profesionalisme di sana, enggak mau tau gimana pun keadaannya, hasil kerjanya harus yang bagus karena hobinya udah jadi profesi. Rasa kebebasan dan kesenangan yang dulu di awal saya alami sudah perlahan berkurang. Saatnya mencari hobi baru biar hidup seimbang dan tidak sepaneng.

Pernah waktu itu mencoba hobi menggambar, sampe niat ikut komunitas gambar A, B, C, dan seterusnya. Tapi karena dari awal tujuan saya menggambar itu agar bisa menghasilkan uang. Ya jadinya mandeg (berhenti) deh, gak diterusin lagi. Alasannya karena males dan bosen. Sejauh ini bermain game online masih merupakan hobi yang bertahan paling lama sejak pertama kali saya mencoba hal tersebut.

Sebenernya tulisan kali ini saya mau pamer hobi baru. Yaitu hobi foto-foto pake kamera analog. Awalnya gak tertarik dan enggak tau juga kalo foto-foto pake kamera jaman dulu ini masih eksis di dunia yang serba 4k ini. Ya bentar lagi 8k juga sih. Karena saya kira hal semacam ini tuh udah mulai punah.

Ternyata perkiraan saya salah. Justru akhir-akhir ini, keinginan orang-orang untuk kembali menggunakan teknologi masa lampau meningkat drastis. Mungkin karena banyaknya orang yang ingin terlihat eStEhTiQuE — makanya hobi ini mulai rame dan digemari lagi. Sampai harga bahan bakunya (roll film) pun ikutan melonjak tajam di beberapa tahun terakhir. Hadehh, baru juga mulai, udah mahal aja materialnya, hiks.

Ketertarikan saya pada hobi foto pake kamera analog ini berawal dari bulan Juni lalu, tepatnya ketika saya sedang melakukan company trip bersama Nubela. Kala itu, kebetulan Aji membawa kamera analognya. Kemudian saya pun juga kaget waktu itu, karena melihat lagi barang jadul yang berfungsi dengan baik. Cerita panjangnya bisa kalian baca di sini.

Singkat cerita, setelah pulang dari liburan. Tibalah momen berbagi foto liburan, dan saat itu kebetulan foto hasil jepretan dari kamera analog Ajiwandi menarik perhatian saya. Saya seperti merasa kangen terhadap sesuatu yang belum pernah saya miliki (kamera analog). Ya maklum, jaman dulu teknologi-teknologi seperti itu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya. Saya yang orang keren n gaul ini bisa apa 😔☝️

Ricoh 500GX camera with flash and battery.
Penampakan kamera Ricoh 500GX yang saya beli kemaren. 100% normal no root, riil banget gaes.

Karena saat ini saya sudah bisa nggolek duek dewe (cari uang sendiri), akhirnya saya memutuskan untuk membeli kamera analog sebagai pelampiasan rasa keingintahuan saya. Kamera analog pertama yang saya miliki atau baru kemaren saya beli merupakan kamera dengan merk Ricoh 500GX. Alasan utama memilih kamera ini dan kenapa bukan kamera analog tipe poin and shoot adalah karena bentuk kameranya yang terlihat jadul dan nc. Masalah hasil belakangan, yang penting suka dulu, ox oc.

Punya kamera udah, njepretnya juga udah. Lalu selanjutnya adalah nyari platform yang bisa dibuat untuk pamer hasil jepretan. Instagram jadi pilihan utama saya untuk membagikan hasil foto. Ya simpelnya karena ia punya banyak pengguna dan juga gampang digunakan. Enggak terlalu profesional, yang penting kesan pamernya dapet. Ya, namanya juga manusia modern. Fungsi pamer mulai bergeser menjadi kebutuhan utama tapi gak utama-utama banget. Tinggal nyari cara pamer yang sesuai kebutuhan aja, anzai.

Ceritanya ketika saya memutuskan untuk mau upload hasil foto di Instagram, saya bingung. Antara mau bikin akun baru apa akun lama aja ya yang dirubah. Karena saya aslinya tiga orang, alias saya udah punya tiga akun Instagram, dan ketiganya punya topik berbeda untuk dibagikan. Personal, desain, dan ilustrasi. Akhirnya tanpa pikir panjang, saya putuskan untuk upload hasil fotonya di akun personal aja deh. Daripada bikin baru, nanti yang lama semakin mangkrak dan males juga ngurusnya kalo banyak-banyak khan hehe.

Sebelum dan setelah memotret, saya mencoba untuk selalu belajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan fotografi. Seperti apa itu ISO, shutter speed, apperture, dan lain-lain. Enggak terlalu banyak, yang penting paham sedikit demi sedikit, seperti kata pepatah Brebes, “Learning by doing and judging by looking”.

Kalau mau lihat hasil foto-fotonya bisa cek akun saya di sini. Sejauh ini udah habis tiga roll film, kemungkinan minggu depan roll film keempat akan saya upload.

Jadi cerita awalnya itu dulu akun ketidakjelasan, kemudian jadi akun rasan-rasan. Setelah kenal myluv Vivicantik, jadinya akun bucin. Setelah beli kamera analog, jadinya akun bucin HD 🥰📸.

Terima kasih Gusti Allah.

--

--

Menulis adalah membaca.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store